Sektor Migas Masih Menjadi Primadona Penerimaan APBN

Jakarta, 27 Juni 2013

 

Komisi XI DPR RI dan Pemerintah membahas asumsi makro sektor Migas untuk APBN 2014. Agenda penting ini mengulas berbagai faktor yang mempengaruhi target penerimaan negara dari sektor minyak dan gas bumi. Sebagaimana diketahui, dari tahun ke tahun, sumbangan pendapatan dari sektor Migas masih menjadi tumpuan utama dalam menopang struktur APBN.

Meski demikian, dalam beberapa waktu terakhir, terjadi sedikit penurunan dan perubahan target penerimaan, misalnya yang berlangsung pada tahun 2012 dan 2013. Pemerintah memberikan penjelasan, bahwa terdapat hal-hal teknis dan non teknis yang berpengaruh. Seperti banyaknya sumur-sumur minyak yang sudah tua, masalah iklim dan cuaca, serta investasi yang tak mencukupi.

Menurut Anggota Komisi XI DPR RI, Ir. H. Andi Taufan Tiro, sektor Migas masih akan menjadi primadona. Mengingat sektor non migas dan penerimaan pajak dan non pajak masih tidak cukup untuk menopang kebutuhan belanja pembangunan nasional. Di sisi lain, migas juga menjadi komoditas strategis, yaitu mencukupi kebutuhan energi nasional. Olehnya, tutur Andi Taufan, paradigma pengelolaan Migas harus bertumpu pada upaya inovasi dan terobosan.

“Masalah klise sektor Migas, ” kata Andi Taufan, “tak akan selesai jika masih menggunakan paradigma lama, yaitu menunggu investasi datang dan terlalu mengandalkan sumur minyak yang lama.”

Data memang menunjukkan, bahwa kerapkali target realisasi lifting minyak (produksi minyak mentah) selalu meleset. Sementara kebutuhan terhadap energi minyak bumi terus menerus memebesar. Berbagai wacana saat ini bermunculan, termasuk usulan agar pemerintah berani melakukan mega investasi demi menggali sumber-sumber minyak baru.

Lebih lanjut Andi Taufan menjelaskan, bahwa pilihan untuk eksploitasi dan eksplorasi sumber-sumber minyak baru memang terkesan pahit dan berat, lantaran membutuhkan biaya yang besar (tak kurang investasi Rp. 1 triliun), juga penuh spekulasi. Akan tetapi pilihan ini harus segera diambil, karena jika hanya menunggu investasi asing dan domestik, beresiko besar dan serba tidak pasti.

Indonesia harus belajar dari Venezuela, kata Andi Taufan. Karena pemerintah di sana berani melakukan investasi sendiri untuk menggali sumber-sumber minyak bumi.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

WP-SpamFree by Pole Position Marketing

http://ajleeonline.com/